Wong Seruk.

SerukSekitar tahun 1970-an, nama Dusun Seruk atau sering hanya disebut dengan Seruk saja, sering dijadikan sebutan untuk orang-orang yang kurang mengikuti perkembangan zaman atau ketinggalan informasi terbaru. “Oh ancene wong seruk!” (Dasar orang seruk), begitulah kata-kata tersebut sering terlontar di kalangan anak-anak muda saat meledek teman mereka.

Sebenarnya kata-kata olokan tersebut berasal dari kondisi Dusun Seruk yang memang dulu begitu terpencil di lereng Gunung Panderman, jauh dari pusat Kota Batu. Kala itu jumlah masyarakat yang tinggal di Dusun Seruk juga masih sangat sedikit dan situasi Dusun itupun masih sangat sepi. Jalan menuju Dusun ini pun belum sebagus seperti sekarang, sehingga akses menuju ke sana juga tidak mudah. Mungkin karena faktor itulah yang menyebabkan munculnya istilah “Wong Seruk” atau “Wong Ndeso” (Orang Udik).

Tahun 1960-an, Dusun Seruk yang merupakan daerah pegunungan, adalah daerah perkebunan jeruk dan kopi. Di daerah tersebut juga terdapat banyak binatang buas berupa harimau, babi hutan, rusa dll. Pada areal hutan dan perkebunan, masyarakat sekitar sering menjumpai bekas garukan kaki harimau pada tanah, orang sering menyebut “Serutan“ kaki harimau. Disamping itu pada malam hari seringkali terdengar raungan harimau yang seru. Dari suara raungan harimau serta garukan [Serutan:Jawa] harimau tersebut, pada akhirnya masyarakat menyebut daerah itu dengan nama Dusun “Seruh/Seruk.”

Pada sekitar tahun 1973, karena perkembangan sosial ekonomi yang lebih maju, masyarakat dengan dimotori oleh seorang petugas dari Dinas Pengairan yang bernama Iskhak, berusaha membuat aliran air untuk kebutuhan rumah tangga masyarakat yang sebelumnya sangat kekurangan. Sehingga melimpahlah air di Dusun Seruh. Karena melimpahnya air tersebut, nama Dusun Seruh/Seruk diganti oleh masyarakat menjadi “Dusun Toyomerto.“

Memoarema.com tanggal 04 Januari 2014 menuliskan:

Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Batu menjadikan Dusun Toyomerto, sebagai Kampung Proklim (Program Kampung Lingkungan). Selain sebagai kampung konservasi lingkungan, kampung ini dijadikan sebagai kampung mandiri energi.

“Dengan keberadaan Desa Toyomerto sebagai kampung proklim, maka akan semakin terprogram dan semakin banyak kegiatan yang berlatar belakang penyelamatan lingkungan,”ujar Kepala KLH Batu, Muchlis.

Di antaranya, mengembangkan biogas untuk mendukung bahan bakar rumah tangga di kampung tersebut. Dijelaskan Muchlis, penyediaan bahan bakar biogas ini dengan membangun Instalasi Pengelolaan Air Limbah Bersama (IPAL Komunal) di Toyomerto.

Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan limbah dari para peternak yang banyak terdapat di desa ini. Dengan potensi ini maka Toyomerto tidak akan kekurangan cadangan gas dengan memanfaatkan biogas.

Limbah dari peternakan tersebut bisa dimanfaatkan untuk bahan dasar pembuatan biogas. Pembuatan biogas ini dengan memanfaatkan IPAL Komunal. Dan pemerintah telah memfasilitasi pembuatan biogas dari limbah yang ada ini.

Dengan perkembangan Dusun Toyomerto yang lumayan pesat tersebut, maka dusun ini tidak lagi dikenal sebagai dusun yang jauh terpencil seperti dulu. Akses jalan sudah bagus, masyarakatnya sudah semakin maju, dan…sebutan “Wong Seruk atau Wong Ndeso” akhirnya punah.

***

By: Jatz, 13 Juni 2014

Sumber foto dan pendukung: Memoarema.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.