Toko Rame dari Masa ke Masa

Melalui foto yang saya upload di facebook, akhirnya satu-persatu wongbatu yang kebetulan melihat  foto tersebut mulai bernostalgia. Ya…foto tersebut adalah foto Toko Rame yang terletak di pojok perempatan BCA. Toko yang bentuk bangunannya tidak pernah berubah mulai dari zaman dulu hingga kini.

Menurut wongbatu lawas, kepemilikan dari toko ini berganti-ganti. Dulu pernah menjadi toko mebel, lalu pernah juga menjadi toko kelontong. Menurut wongbatu lawas tersebut, dulu istri dari pemilik toko kelontong tersebut suka mengenakan perhiasan seperti gelang dan kalung yang begitu banyak dan mencolok. Saking mencoloknya, wongbatu lawas ini masih mengingatnya hingga saat ini.

Di zaman saya, Toko Rame adalah sebuah toko yang menjual aneka macam jenis benang dan jarum. Juga aneka macam kebutuhan untuk jahit-menjahit, seperti bingkai untuk menyulam, pita, renda dll. Seorang wongbatu mengisahkan pada saya, bahwa pernah suatu hari saat hari sudah gelap ia pergi ke toko ini untuk membeli jarum. Namun, betapa terherannya ia saat sang pemilik toko menolak untuk memberikan jarum dan menyarankan pada teman saya agar ia kembali keesokan harinya sebelum hari gelap. Teman saya kebingungan, namun ia menuruti saran sang pemilik toko. Beberapa hari setelah itu teman saya baru mengerti alasannya, ternyata pada saat itu jarum masih sering dikaitkan dengan ilmu tenung, sehingga sang pemilik toko khawatir jika jarum-jarum yang dibeli pada malam hari akan digunakan untuk menenung seseorang. Tentu saja teman saya tersebut terbahak karena tujuan ia membeli jarum memang benar-benar untuk menjahit.

Ada kisah lagi dari wongbatu yang pada suatu ketika mengajak istrinya untuk membeli benang di toko tersebut. Sang istri yang bukan wongbatu, terkesima dengan gaya bangunan dan suasana di dalam toko tersebut, “Sangat klasik” katanya. Wongbatu itu lantas berusaha menjelaskan kepada istrinya bahwa Toko Rame memang salah satu bangunan kuno yang ada di Kota Batu.

Wongbatu lainnya mengisahkan, bahwa di depan toko tersebut mereka biasanya menunggu angkot jurusan ke Selecta dan Desa Junggo yang pada waktu itu adalah mobil kijang kotak berwarna putih, bukan mikrolet seperti saat ini. Entah bagaimana nasib dari kijang kotak tersebut sekarang, tapi yang pasti, kenangan akan angkot kijang kotak putih tersebut masih ada dalam kenangan wongbatu lawas.

Saya sendiri sebagai wongbatu, nyaris tidak pernah masuk toko ini sama sekali. Mungkin sekali-kali perlu dikunjungi sekedar mengenang secuil kehidupan Kota Batu tempo dulu.

***

Jatz, 07 Mei 2016

4 thoughts on “Toko Rame dari Masa ke Masa”

  1. Cilikanku biyen nek mudhun tekan kijang mesti ndik samping iku sing nang arah genthengan 😀 jaman iku jalan arah A Yani belum di aspal…sekitar tahun 86-87 …

    Terus kalau mau ke Malang sangu permen / teh kotak beli di Toko Rame…tetep nyegat-e mobil colt yo di samping iku.. nanti turunnya di terminal nDinoyo 😀

    Luxor iku yo termasuk kenangan terbaik lho…tempat beli rugos paling lengkap sak kutho mBatu hahaha

    1. Rugos ya….generasi sekarang nyaris tidak tau apa itu rugos….wongbatu lawas pasti tau…karena itu sarana satu-satunya untuk membuat tulisan dengan huruf-huruf yang tidak ada di mesik ketik. Sweet Memory…

  2. Nang toko iki biyen tuku Rugos, karo buku tulis Kiky gambar Rambo , Commando, Terminator ……

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.