Toko Bali, Studio Foto legendaris…

Mungkin studio foto tertua di Kota Batu dan masih eksis hingga saat ini adalah Bali Foto. Studio yang terletak di Jl.Gajah Mada ini melayani aneka ragam kebutuhan fotografi mulai dari cuci-cetak, pas foto untuk keperluan-keperluan formal, penjualan kamera, hingga penyediaan film yang pada zaman itu masih menggunakan rol film isi 24 atau 36 frame dengan asa 100 sampai 400.

Bali Foto yang telah ada sekitar tahun 1955 ini awalnya bernama Toko “Quick”, bisa dikatakan pada masa itu toko ini adalah satu-satunya tempat penyedia kebutuhan fotografi yang cukup lengkap. Kemudian sekitar tahun 1970-an nama toko ini diganti dengan nama Toko Bali karena ada peraturan pemerintah yang mengharuskan nama toko harus menggunakan Bahasa Indonesia.

Saya masih ingat bahwa pengunjung harus rela antri untuk sekedar membuat foto keluarga atau pas foto. Dan untuk urusan cuci cetak, biasanya harus menunggu 1 – 3 hari baru selesai, itu pun sudah tergolong sangat cepat .

Satu-satunya pesaing dari Toko Bali pada masa itu adalah Toko “Luxor”, yang lokasinya hanya berjarak beberapa meter, namun seiring semakin tingginya kebutuhan masyarakat akan fotografi, maka pesaing-pesaing dari Toko Bali pun mulai bermunculan, beberapa dari studio-studio baru itu masih ada hingga kini, namun ada juga yang sudah tinggal cerita.

Entah di tahun berapa perkembangan dunia cetak foto mengalami lonjakan yang cukup berarti. Kalau biasanya untuk cuci-cetak diperlukan waktu minimal satu hari, maka dengan kehadiran mesin baru tersebut hanya diperlukan waktu sekitar satu jam. Seingat saya pesaing Toko Bali yang cukup menantang waktu itu adalah Classic Foto, dengan papan promosi yang dipasang di depan toko dengan tulisan: Cuci-Cetak hanya 1 jam! Disusul kemudian dengan Batu Foto dengan slogan yang sama. Toko Bali pun tidak tinggal diam, papan pengumuman cuci-cetak hanya 1 jam juga dipasang cukup menyolok di depan toko. Masyarakat mulai memiliki beberapa pilihan untuk urusan cuci-cetak foto. Belum lagi munculnya afdruk foto kilat dengan cara manual yang biasanya disebut dengan “Foto Bantengan” (disebut seperti ini karena sang tukang afdruk memasukkan kepalanya ke kotak kecil yang ditutup kain hitam untuk proses cetaknya sehingga mirip seni bantengan), menjadikan kebutuhan masyarakat untuk afdruk kilat semakin banyak pilihan.

Fotografi pada zaman itu adalah sungguh sebuah dunia yang cukup mahal. Kameranya mahal, film-nya mahal, belum lagi biaya cuci-cetaknya. Memiliki sebuah kamera pada zaman itu adalah sebuah kemewahan tersendiri. Karena itulah kita agak sulit mencari foto-foto Kota Batu Tempo Doeloe karena memang tidak semua lapisan masyarakat mampu memiliki kamera pribadi.

Di era zaman sekarang di mana semua serba digital, satu-persatu studio foto di Kota Batu termasuk “Foto Bantengan” berguguran dan hilang tanpa bekas. Toko Bali adalah salah satu yang masih bertahan dan memiliki pesaing-pesaing baru yaitu studio-studio foto modern. Tidak ada lagi slogan “Cuci-cetak 1 jam jadi,” karena untuk proses cetak sekarang jauh lebih cepat, hanya sekitar 10 – 20 menit. Tidak kita temui lagi orang yang datang dengan membawa rol film untuk dicucikan, yang jamak terlihat adalah membawa Flashdisk, External Harddisk, Memory Card, atau HP. Dunia fotografi semakin sederhana dan murah dengan ditemukannya sistem digital. Harga kamera pun semakin terjangkau, belum lagi HP-HP terbaru juga sudah dilengkapi dengan kamera dengan kualitas yang cukup bagus. Tinggal jepret sana jepret sini tanpa resiko. Fotografi semakin murah dan mudah.

***

Foto & Artikel By: Jatz

05 Mei 2014

6 thoughts on “Toko Bali, Studio Foto legendaris…”

  1. pak jatmiko kalau habis karnaval majang foto karnaval di tempel2 di kaca…. hehehehe

  2. Betul Mas Ivans…saya masih ingat dulu suka lihat-lihat hasil foto-foto perayaan 17 Agustus di kaca Toko Bali…

  3. Jaman tk smpe sd kate poto daftaran skolah karo bapak mesti dijak ng bali foto
    Cirikhas e pinggire ftone ono motif e

  4. Stadion batu dulu adanya dibelakang kantor pemkot lama…,dan sman 1 batu serta SMPN 1 itu dulu adalah pekuburan belanda…dibongkar jadi sekolah

Leave a Reply to Soleh Hasan c (Bejo) Cancel reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.