Sekilas tentang asal-usul nama kampung di Kota Batu

Nama sebuah tempat kadang memang tidak jelas asal-usulnya karena penamaannya sebagian besar berasal dari kebiasaan masyarakat setempat dalam menandai lokasi sebuah tempat. Tempat-tempat tertentu memang bisa dilacak asal-usulnya melalui cerita turun-temurun, prasasti, lontar kuno, atau dari pahatan relief yang tersisa. Namun bagaimanakah dengan tempat-tempat yang tidak memiliki catatan sejarah secuilpun?

Di Kota Batu ada beberapa nama tempat yang masih digunakan hingga saat ini meski asal-usul dari nama tersebut hanyalah berupa dugaan atau cerita dari para sesepuh Kota Batu. Nama-nama tempat tersebut antara lain:

Suketan.

Daerah ini terletak di sebelah utara Kantor Kelurahan Ngaglik. Nama Suketan berasal dari kata “suket” yang dalam bahasa Indonesia berarti rumput. Konon di tempat ini dahulu digunakan sebagai pusat penjualan rumput/suket. Daerah yang berada di sebelah timur Jalan Ikhwan Hadi atau sebelah utara Jalan Abdul Rahman ini kini telah menjadi perkampungan yang padat dan tidak ada lagi aktivitas jual-beli rumput/suket. Namun nama Suketan tetap digunakan hingga kini.

Klebengan

Klebengan adalah nama sebuah daerah atau mungkin lebih tepat disebut kampung di sebelah utara Kelurahan Ngaglik. Akses utama menuju kampung ini adalah melalui Jalan Lesti yang merupakan cabang dari Jalan Panglima Sudirman. Menurut cerita, dahulu ketika Gunung Bokong meletus, daerah ini sempat terendam lahar cukup lama. Entah cerita ini benar atau tidak, namun akhirnya karena daerah ini dalam kondisi terendam, yang dalam bahasa jawa terendam disebut “keleb,” maka daerah ini akhirnya disebut daerah yang terendam, atau daerah yang “keleb.” Entah berapa lama, lahar yang menggenangi daerah ini pun akhirnya surut, dan entah bagaimana pula ceritanya akhirnya nama untuk daerah ini adalah “Klebengan.” Daerah Klebengan sekarang telah menjadi salah satu daerah dengan hunian sangat padat. Penduduk asli telah bercampur dengan pendatang karena sebagian besar rumah penduduk difungsikan sebagai tempat kos-kosan atau dikontrakkan bagi orang luar kota yang bekerja di Kota Batu. Di bagian utara dari daerah Klebengan masih terdapat beberapa hektar sawah dan ladang yang mungkin milik dari penduduk setempat.

Kampung Hendrik

Kampung Hendrik yang  terletak di Kelurahan Ngaglik sebelah barat, berbatasan dengan Desa Pesanggrahan. Akses utama menuju kampung adalah melalui Jalan Darsono. Kampung ini sangat padat dengan gang-gang sempit yang saling tersambung satu sama lain. Konon dahulu sebagian besar tanah di kampung ini adalah milik seorang warga Belanda bernama Tuan Hendrik. Penduduk lokal bekerja menggarap lahan milik Tuan Hendrik. Tidak ada cerita atau data yang menjelaskan bagaimana kisah selanjutnya tentang Tuan Hendrik dan tanahnya. Yang jelas, kampung ini hingga kini disebut Kampung Hendrik.

Kampung Mul.

Kampung dengan nama aneh ini terletak di sebelah timur Kampung Hendrik atau di Jalan Darsono Timur. Menurut cerita, daerah ini dahulu sangat dingin, hingga warga di kampung ini setiap hari selalu mengenakan sarung sebagai ganti jaket. Mereka menutupi seluruh tubuh mereka dengan kain sarung hingga yang terlihat hanya bagian wajah dan kaki, membungkus tubuh dengan sarung seperti ini dalam bahasa Jawa biasanya disebut dengan “Kemulan Sarung” atau menggunakan sarung sebagai selimut. Mul diambil dari kata “Kemul” atau selimut. Karena kebiasaan penduduknya yang seperti itu maka akhirnya disebut Kampung Kemul, dan akhirnya hanya disebut dengan Kampung Mul.

Gentengan.

Kampung ini terletak di sebelah timur dari Jl.Brantas yang berbatasan dengan kampung Kali Putih Kelurahan Sisir. Aktifitas pagi hari di kampung ini cukup sibuk karena ada sebuah pasar kecil di salah satu gang menuju kampung Gentengan. Tentu saja apa yang dijajakan di pasar kecil ini tidak selengkap dibanding dengan pasar besar Kota Batu, namun pasar ini di pagi hari cukup sibuk dengan ibu-ibu yang sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari. Nama Gentengan sendiri berasal dari kata “genteng.” Menurut cerita di kampung dahulu adalah tempat pembuatan genteng yang cukup terkenal, hingga akhirnya sampai sekarang masih disebut dengan “Gentengan” meski aktifitas pembuatan genteng sekarang sudah tidak terlihat lagi.

Pinglun.

Kampung Pinglun terletak di sebelah selatan dari kampung Kauman, atau tepatnya di kiri kanan Jl.Bromo Kelurahan Sisir. Menurut cerita, di kampung ini dahulu ada semacam rumah rehabilitasi bagi penderita gangguan jiwa, mungkin semacam rumah sakit jiwa. Dahulu di tempat rehabilitasi tersebut banyak sekali kolam-kolam kecil atau disebut dengan “jedingan” yang digunakan untuk merendam para penderita gangguan jiwa sebagai salah satu bentuk terapi penyembuhan. Nama pemilik dari tempat tersebut adalah Tuan Pinglun, nama yang aneh, dilihat dari namanya mungkin beliau adalah keturunan Cina. Seiring dengan perkembangan zaman, tempat rehabilitasi ini kemudian lama-kelamaan tidak berfungsi lagi dan dijadikan rumah tinggal oleh penduduk setempat, sementara kolam-kolam airnya juga sudah ditutupi untuk dijadikan rumah. Hingga saat ini pun sisa-sisa rumah rehabilitasi ini hampir tidak ditemukan lagi. Namun sebutan untuk area ini tetap menggunakan kata Pinglun, hingga sampai sekarang kampung ini disebut dengan kampung Pinglun.

Kampung Pentil

Kampung Pentil adalah sebutan untuk sebuah kampung yang terletak di kaki gunung Panderman (sekarang kawasan Agrowisata Kota Batu). Sebutan ini muncul karena di kampung ini dahulu adalah tempat tinggal atau berkumpulnya para pemulung yang mengumpulkan karet pentil. Namun sekarang nampaknya aktifitas tersebut sudah tidak ada lagi dan bahkan sebutan kampung pentil pun menghilang seiring dengan berhentinya usaha tersebut. Masyarakat sekarang lebih mengenal kawasan tersebut dengan sebutan daerah Agro (Agrowisata), dan hampir tidak ada yang menyebut daerah dengan sebutan kampung Pentil lagi.

***

Ditulis kembali oleh: Jatz, 28 Desember 2013

Sumber: Rosidah Erawati, Peserta Sekolah Demokrasi Kota Batu Angkatan V. & cerita-cerita dari masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.