Paralayang Gunung Banyak

Paralayang-1Terbang melayang bersama angin. Ringan membelah udara di bawah langit biru, itulah kesan yang tertangkap saat mengamati seseorang yang sedang terbang dengan menggunakan paralayang di udara bebas. Wana Wisata Dirgantara Gunung Banyak, atau lebih sering disebut dengan Paralayang Gunung Banyak yang berlokasi di Kota Batu – Jawa Timur ini, diresmikan oleh Marsenal TNI Bapak Hanafie Asnan yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua Umum Federasi Aero Sport Indonesia, pada tanggal 20 Juni 2000 bertepatan dengan PON XV Jawa Timur.

Warga Kota Batu boleh berbangga karena Paralayang Gunung Banyak adalah salah satu arena paralayang yang sudah dikenal secara internasional.

Hal ini terbukti dengan suksesnya penyelenggaraan kejuaraan Paralayang berskala internasional bertajuk “Batu Open Paralayang 2011” yang tidak hanya diikuti oleh peserta lokal dan nasional, namun sedikitnya sekitar 15 negara turut serta mengikuti kejuaraan ini. Beberapa negara yang berpartisipasi di antaranya, Filipina, Malaysia, Singapura, Vietnam, Swiss, Rep. Ceko serta Indonesia selaku tuan rumah.

Persiapan terbang
Persiapan terbang

Olahraga Paralayang yang muncul di sekitar tahun 1950-an dan kejuaraan dunia pertamanya dilangsungkan pada tahun 1989 di Kossen – Austria ini, menjadikan kawasan Gunung Banyak yang dulu sepi menjadi semarak sejak dijadikan sebagai “Take-off Area” bagi para penggemar atau atlit paralayang. Lokasi Gunung Banyak yang berada di sebelah barat Kota Batu ini memang begitu indah. Dari puncak Gunung Banyak hamparan pemandangan Kota Batu terpampang di depan mata dengan begitu jelas. Hembusan angin yang cukup kencang, udara dingin, dan hamparan seluruh sudut wilayah Kota Batu membuat siapa saja yang berada di sini serasa enggan meninggalkan lokasi begitu cepat. Jika anda berkunjung di tempat ini pada hari Minggu atau hari-hari libur, selain anda akan disuguhi indahnya Kota Batu dari ketinggian, anda juga dapat menikmati atau mengamati para pilot paralayang yang terbang melayang bersama angin dan mendarat di “Landing Area” Songgomaruto di desa Songgokerto – Kota Batu. Atau jika anda ingin merasakan sensasi terbang dengan paralayang, anda bisa mencoba untuk terbang secara tandem bersama pilot yang sudah berpengalaman.

Bundaran hitam adalah tempat untuk "landing."
Bundaran hitam adalah tempat untuk “landing.”

Awal mula olahraga Paralayang di Indonesia diawali dengan berdirinya Kelompok Terjun Gunung MERAPI di Yogyakarta pada bulan Januari 1990. Pada saat itu olahraga paralayang lebih dikenal dengan nama Terjun Gunung. Pendiri klub ini adalah Dudy Arief Wahyudi dan Gendon Subandono. Kedua orang tersebut belajar secara mandiri melalui manual dan majalah paralayang. Bukit-bukit pasir di Parangtritis menjadi tempat latihan awal olahraga ini. Parasut yang dipakai untuk pertama kali adalah tipe Drakkar produksi Parachute de France tahun 1987. Pada tahun ini pula David A Teak mulai merasakan nikmatnya terbang dengan paralayang. Untuk lebih detailnya silahkan anda KLIK DI SINI

Sebagai sebuah wahana wisata, paralayang juga dibuka bagi siapa saja yang ingin terbang secara tandem. Biaya untuk paket tandem dimulai dari tiga ratus lima puluh ribu rupiah sampai enam ratus ribu rupiah. Untuk terbang secara tandem anda tidak harus mengikuti pelatihan apapun, anda hanya harus dalam kondisi kesehatan yang prima. Namun jika ingin terbang secara solo, maka anda harus mengikuti serangkaian pelatihan untuk mengendalikan paralayang.

Akhir kata, jika anda termasuk orang yang menyukai hal-hal yang bersifat memacu adrenalin dan menguji nyali, maka Paralayang layak anda jadikan sebagai pilihan. Hidup begitu singkat, maka tidak ada salahnya merasakan tiap sisi indahnya agar kehidupan ini lebih bermakna.

***

Artikel ini sudah dimuat di: pesonamalangraya.com

Sumber Pelengkap: wikipedia

By: Jatz

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.