Grejo Jago

Wajah GPIB tahun 2008
Wajah GPIB tahun 2008

Grejo Jago, itulah sebutan masyarakat Kota Batu untuk Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) yang berlokasi di Jalan Trunojoyo tersebut. Begitu melekatnya gereja ini dengan masyarakat sampai perempatan jalan besar di sebelah timur dari gereja tersebut disebut dengan “Prapatan Grejo Jago.” Namun perlahan-lahan sebutan tersebut memudar, dan perempatan tersebut sekarang lebih sering disebut dengan “Prapatan Sanggrahan.”

Sebutan Grejo Jago mungkin berasal dari bentuk lempengan besi tipis yang berada di pucuk atap bangunan gereja yang berbentuk ayam jago. Mungkin dari bentuk ayam jago itulah maka kemudian masyarakat menyebutnya dengan Grejo Jago (Gereja Jago). Ayam jago sendiri bagi gereja tersebut merupakan simbol/pengingat bagi umat akan sikap penyangkalan Petrus terhadap Yesus, “Sebelum ayam berkokok, kau telah menyangkalku tiga kali.”

GPIB di Kota Batu didirikan pada tanggal 31 Oktober 1948 yang pada waktu itu bernama “De Protestantse Kerk in Westelijk Indonesie” berdasarkan Tata-Gereja dan Peraturan-Gereja yang dipersembahkan oleh proto-Sinode kepada Badan Pekerja Am (Algemene Moderamen) Gereja Protestan Indonesia. Sudah cukup lama GPIB menjadi bagian dari Kota Batu, sudah seharusnya gedung gereja ini masuk dalam daftar bangunan cagar budaya yang tidak boleh diubah atau diganti dengan bangunan bergaya modern. Di tengah perubahan Kota Batu menjadi kota wisata yang modern, bangunan semacam ini harus tetap dipertahankan sebagai saksi sejarah.

Majelis Sinode “De Protestantse Kerk in Westelijk Indonesië” yang pertama pada waktu adalah:

  • Ds. J.A. de Klerk (Ketua)
  • Ds. B.A. Supit (Wakil Ketua)
  • Ds. L.A. Snijders (Sekretaris I)
  • Pnt. J.A. Huliselan (Sekretaris II)
  • Pnt. E.E. Marthens (Bendahara)
  • Pnt. E.A.P. Klein (Penasihat)
  • Ds. D.F. Sahulata (Pendeta Bahasa Indonesia)
  • Ds. J.H. Stegeman (Pendeta Bahasa Belanda)

Ketika pertama kali terbentuk, GPIB mempunyai TUJUH buah Klasis (kini disebut Mupel atau Musyawarah Pelayanan) dengan 53 jemaat yaitu:

  1. Klasis Jabar meliputi 9 jemaat: Jakarta, Tanjung Priok, Jatinegara, Depok, Bogor, Cimahi, Bandung, Cirebon dan Sukabumi
  2. Klasis Jateng meliputi 6 jemaat: Semarang, Magelang, Yogyakarta, Cilacap, Nusakambangan dan Surakarta
  3. Klasis Jatim meliputi 12 jemaat: Madiun, Kediri, Madura, Surabaya, Mojokerto, Malang, Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Singaraja, Denpasar dan Mataram
  4. Klasis Sumatra meliputi 7 jemaat: Sabang, Kutaraja, Medan, Pematang Siantar, Padang, Telukbayur dan Palembang
  5. Klasis Bangka & Riau meliputi 4 jemaat: Tanjung Pinang, Pangkal Pinang, Muntok dan Tanjungpandan
  6. Klasis Kalimantan meliputi 8 jemaat: Singkawang, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Tarakan, Sanga-sanga dan Kotabaru
  7. Klasis Sulawesi meliputi 7 jemaat: Makassar, Pare-pare, Watansopeng, Raha, Palopo, Bone dan Malino

GPIB adalah anggota dari GPI, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Dewan Gereja-gereja Asia (CCA), Aliansi Gereja-gereja Reformasi se-Dunia (WARC), dan Dewan Gereja-gereja se-Dunia (WCC).

Itulah sedikit yang bisa saya ceritakan tentang Grejo Jago, tentu saja data di atas saya dapatkan dari sumber GPIB yang saya baca di internet. Jika ada tambahan atau koreksi atas tulisan di atas, tolong beri masukan melalui email.

***

Sumber: http://www.gpib.org/tentang-gpib

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.