Gang Garasi, dulu memang benar-benar sebuah garasi…

Selalu ada kisah dibalik sebuah nama. Seperti Gang Garasi yang merupakan percabangan dari Jl.Panglima Sudirman. Bagi generasi muda wongbatu, nama ini tentu terdengar aneh, karena nama sebuah jalan atau gang pada umumnya diambil dari nama pahlawan, gunung, danau, bunga, sungai, atau binatang. Namun gang yang satu ini bernama garasi. Mengapa garasi?

Berawal dari pengusaha wanita keturunan Belanda-Cina bernama Tjoa Tjuan Gie, atau lazim disapa “Liem” dan juga dipanggil dengan “Whising,” yang mempunyai pabrik tenun di Kota Batu. Karena usaha tenunnya berada di Kota Batu, maka dia kemudian mempertimbangkan untuk memiliki sebuah rumah di Kota Batu. Maka pada tahun 1930-an, Liem membeli sebuah rumah mewah milik keluarga Sarkies yaitu “Jambe Dawe” (sekarang Hotel Kartika Wijaya).

Selain memiliki pabrik tenun, Liem juga memiliki perusahaan otobus bernama N.V. Otobus Liem. Salah satu trayek busnya adalah jalur Batu – Malang yang pada saat itu masih berupa jalan tanah, dan bus milik Liem adalah satu-satunya bus penghubung antara kedua kota tersebut.

Bis BOM wongbatu

Bus untuk trayek Batu – Malang, khusus ia namakan dengan “P.O. B.O.M (Batoe Omnibus Maatschappij), atau wongbatu sering menyebutnya dengan bus B.O.M saja. Garasi untuk otobus-otobus miliknya ia bangun di sebuah gang yang kini disebut dengan gang garasi tersebut. Jadi gang garasi di masa lalu benar-benar adalah sebuah gang yang didalamnya terdapat sebuah garasi.

Tidak terdapat info sampai kapan gang garasi digunakan untuk markas bus B.O.M milik Liem tersebut. Namun meski kisah tersebut tinggal kenangan, wongbatu hingga kini tetap menyebut gang tersebut dengan “Gang Garasi.”

***

Jatz, 22 Mei 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.