Festival Gebyak Bantengan Nuswantara

Festival Gebyak Bantengan Nuswantara adalah acara tahunan yang digelar di Kota Batu. Tahun 2012 yang lalu adalah penyelenggaraannya yang ke-5. Festival ini diikuti oleh grup-grup dari berbagai grup kesenian bantengan se-Malang Raya dan daerah lain seperti Jombang Kediri dan Mojokerto. Setiap penyelenggaraannya selalu mengangkat sebuah tema, seperti pada tahun 2011 yang lalu tema yang diusung adalah “Kidung Harmoni,” sebuah ungkapan dimana pada zaman sekarang manusia mulai asing dengan keharmonisan, baik itu harmoni dengan Tuhan, sesama manusia, dengan alam lingkungan dan harmoni kepada leluhur.

Bantengan Nuswantara 2

Bantengan adalah sebuah kebudayaan komunal yang melibatkan banyak orang di dalam setiap pertunjukannya. Seperti sifat Banteng yaitu hidup secara berkelompok. Dalam seni pertunjukan banteng, berbagai unsur seperti tari-tarian, pencak silat, musik, dan syair/mantra/suluk dilebur menjadi satu kesatuan. Dalam setiap pertunjukannya, selain terdapat seekor atau lebih Banteng liar, juga terdapat Macan. Banteng-banteng yang sering dianggap sebagai simbol dari rakyat kecil ini, berjuang melawan Macan sebagai simbol penjajah. Ada satu tokoh hewan lagi yaitu Monyet yang suka menggoda Banteng dan Macan. Monyet di sini melambangkan Provokator.

Bantengan Nuswantara 3

Pertunjukan banteng biasanya digelar dengan cara melepaskan banteng-banteng liar ini di sepanjang jalan dengan dikawal beberapa orang yang menjaga banteng-banteng ini agar tidak menyerang penonton. Biasanya para pengawal menjaga banteng dengan cara mengikat lehernya dengan dua atau empat tali untuk menahan gerakan liar dari banteng-banteng yang setiap saat bisa mengamuk. Tokoh Macan, biasanya gerakannya lincah dan selalu mencari gara-gara dengan banteng. Banteng yang tidak tahan dengan godaan Macan akhirnya mengamuk menyeruduk apa saja yang ada di sekelilingnya. Sementara tokoh monyet biasanya lincah berloncatan kesana kemari menghindari amukan banteng dan macan. Selama pertunjukan tersebut diiringi dengan lantunan musik tradisional seperti bonang dan gong yang dibunyikan terus-menerus dan monoton. Para pengawal banteng maupun pemain musiknya berpakaian serba hitam ala baju tradisional Madura dan mengenakan ikat kepala yang biasanya disebut dengan “Udeng.” Selama pertunjukan beberapa orang terus-menerus melecutkan cambuk ke udara dan ke jalanan, kadang cambuk-cambuk tersebut dilecutkan ke kakinya sendiri untuk menunjukkan bahwa mereka cukup kebal dengan cambuk tersebut.

Sebagai salah satu gelar seni yang digelar di Kota Batu setiap tahun, semoga acara seperti ini dapat menjadi media untuk melestarikan budaya Indonesia agar terus eksis di tengah perubahan zaman yang kian modern.

***

By: Jatz, 16 Mei 2013

(Tulisan ini juga dimuat di: pesonamalangraya.com)

Foto: pesonamalangraya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.