Dokar, yang makin tersisih…

Dahulu sebelum Kota Batu mengalami kemajuan seperti sekarang ini, dokar menjadi salah satu atau mungkin satu-satunya pilihan sarana transportasi bagi masyarakat Kota Batu.

Dokar-1

Sifatnya yang lebih fleksibel (dokar dapat masuk ke jalan-jalan di kampung dibanding angkutan umum yang hanya melewati jalur-jalur jalan besar) menjadikan sarana ini begitu dibutuhkan oleh masyarakat. Kami masih ingat bahwa dulu sarana antar-jemput bagi anak-anak sekolah terutama yang masih TK dan SD adalah dokar-dokar yang sudah disewa per-bulan dengan biaya tertentu. Sementara kusir-kusir lainnya yang melihat peluang ini, mencari penumpang sebanyak-banyaknya dengan cara “memarkir” dokar mereka di depan sekolah-sekolah pada jam-jam aktif. Dulu begitu jamak terlihat kotoran-kotoran kuda di sepanjang jalur yang biasa dilewati dokar-dokar ini.

Selain dokar, di Kota Batu dahulu juga terdapat sarana transportasi yang disebut dengan cikar. Bedanya, kalau dokar ditarik oleh kuda, maka cikar ditarik oleh sapi. Ukuran kendaraannya juga lebih besar dan berbentuk mirip rumah. Biasanya cikar-cikar ini digunakan untuk mengangkut bahan-bahan bangunan seperti batu bata dan pasir. Jalannya sangat lambat. Anak-anak kecil biasanya menjadi penumpang gelap dengan membonceng secara diam-diam di bagian belakang cikar, mereka baru turun kalau sudah diusir oleh sang kusir cikar.

Saat ini, keberadaan dokar masih ada meskipun dalam hal jumlah sudah sangat berkurang. Kemunculan “Ojek” sebagai pilihan transportasi di Kota Batu semakin membuat keberadaan dokar-dokar ini perlahan-lahan menghilang. Kondisi medan Kota Batu yang naik turun dan banyaknya gang-gang kecil di dalam kampung, menjadikan masyarakat lebih memilih Ojek karena lebih fleksibel dan lebih cepat. Bagi masyarakat Kota Batu mungkin pilihan transportasi saat ini hanyalah Ojek dan Angkot dalam kota, sudah sangat jarang masyarakat yang melirik dokar sebagai pilihan transportasi.

Sekarang dokar-dokar ini hanya terlihat di sekitar alun-alun dan di pasar besar Kota Batu. Satu dua kali masih terlihat masyarakat yang masih menggunakan jasa dokar. Dalam pandangan kami, mungkin lebih baik dokar-dokar ini diperbagus penampilannya untuk dijadikan sarana wisata bagi turis domestik maupun luar negeri yang singgah di Kota Batu. Mungkin pihak Pemkot atau pengusaha hotel dapat menjadikan acara “jalan-jalan keliling Kota Batu dengan menggunakan dokar” sebagai sebuah paket wisata yang menarik seperti yang sudah terjadi di Kota Jogja, sehingga di samping memberikan kesan tersendiri bagi wisatawan juga dapat membantu eksistensi bagi dokar agar tidak hanya menjadi sebuah kenangan masa lalu. Semoga.

***

Artikel ini sudah dimuat di pesonamalangraya.com

Foto & Artikel By: Jatz

Dipublikasikan di batukota.wordpress.com tanggal 18 Sep 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.