BPP; Pembuka Pintu Teknologi bagi Masyarakat Kota Batu

Bangunan ini adalah salah satu dari sedikit bangunan kuno di Kota Batu yang belum berubah dan bisa dikatakan masih dalam keadaan utuh. Sejarah tentang bangunan tidak banyak yang tahu, bahkan pemiliknya yang terakhir pun tidak tahu asal-usul bangunan ini sebelum mereka tempati. Bangunan ini kini dalam keadaan kosong tak berpenghuni. Pemiliknya yang terakhir kini menempati bangunan panjang tepat di sebelah bangunan kuno ini. Kami juga belum mendapatkan informasi lagi tentang status bangunan ini sekarang, apakah sudah diambil alih oleh pemerintah, atau menjadi milik perorangan.

BPP-1

Terlepas dari sisi status dan sejarahnya, bangunan ini bagi masyarakat Kota Batu memiliki arti tersendiri yang sebenarnya tidak bisa dilewatkan begitu saja, sebab dari tempat inilah pintu menuju ke dunia komputer bagi masyarakat Kota Batu dibuka. Sekitar tahun 1980-an, penghuni bangunan kuno ini memasang papan nama bertuliskan BPP (Berkat Perdana Perkasa) yang menawarkan jasa rental komputer. Sejak itulah masyarakat Kota Batu kemudian menyebut bangunan ini sebagai BPP.

Bisa dikatakan, masyarakat kota Batu akan tertinggal mengenal komputer jika rental komputer yang bernama BPP ini tidak pernah ada. BPP yang berlokasi di tengah-tengah pusat Kota Batu atau tepatnya di Jalan Sudiro 3  ini menjadi semacam pembuka jalan bagi masyarakat yang pada waktu itu belum tahu apa-apa soal komputer. Di zaman teknologi komputer masih berada pada tingkat sebelum era prosesor Pentium muncul, BPP menjadi semacam tempat “training” dan pengenalan komputer bagi masyarakat.

BPP merintis jalan mulai dari komputer yang masih menggunakan sistem operasi DOS dengan program pengolah kata yang begitu populer saat itu yaitu WordStar dan program “spreadsheetLotus 123. Operating SystemWindows” bisa dikatakan belum dikenal oleh masyarakat, rata-rata kemampuan komputernya pun masih dengan prosesor berkecepatan 286Mhz, memiliki komputer dengan kecepatan seperti itu pada waktu itu adalah sebuah kemewahan tersendiri. Harga komputer sangat mahal, tidak terjangkau, sehingga dengan munculnya BPP sebagai badan usaha penyedia rental komputer pertama kali di kota Batu menjadi semacam angin segar bagi masyarakat kota Batu.

BPP-2

Pada sekitar tahun 1990-an, komputer-komputer yang disewakan oleh BPP meningkat. Untuk pertama kali masyarakat berkenalan dengan komputer berkecepatan 486Mhz, tidak lama kemudian muncul Pentium 100, 133, 166. Memiliki komputer dengan prosesor Pentium 166Mhz pada waktu itu merupakan mimpi setiap orang yang gemar komputer. Di titik ini untuk pertama kali BPP, sekali lagi, tanpa disengaja, secara tak langsung telah mengenalkan pada masyarakat Operating System Windows.

BPP semakin berkembang dan menggunakan Windows 3.1.1 pada setiap unit komputernya, lalu tak lama setelah itu Windows 95 mulai menggantikan Windows 3.1.1. Masyarakat kota Batu akhirnya berkenalan dengan sistem operasi Windows dan sudah meninggalkan sistem operasi DOS sama sekali. Mungkin untuk pertama kalinya pula beberapa penggemar komputer mulai menyebut-nyebut nama Bill Gates meski dalam batas pengetahuan yang masih terbatas. Sampai titik ini pula kemunculan rental-rental komputer lain belum dapat menandingi kebesaran nama BPP.

BPP makin dikenal masyarakat sejak membuka kelas untuk kursus komputer, ditambah pula kemudian dengan membuka servis komputer. Tempat servis komputer yang paling diandalkan bagi mereka yang pada waktu itu sudah mampu memiliki komputer pribadi di rumah.

Sekitar tahun 2002, BPP juga menjadi salah satu pemain usaha “Warnet” di Kota Batu meski untuk kali ini BPP bukanlah pioner. Ada tiga warnet yang mendahului BPP yaitu: Batunet, Kopedanet, dan Union.

Zaman berubah cepat, dan BPP kini tidak lagi seperti dulu lagi. Namun apapun perubahannya, BPP tetaplah menjadi pioner dalam bidang komputer di Kota Batu.

Artikel ini sudah dimuat di:  pesonamalangraya.com

Artikel & Foto By: Jatz

***

4 thoughts on “BPP; Pembuka Pintu Teknologi bagi Masyarakat Kota Batu”

    1. Jl Sudiro ada di dekat alun-alun, dulunya adalah pasar senggol (lebih tepatnya, itu dulu rumahnya Om Wai Giok)

  1. Waduh sayang sekali, rumah-rumah tua yang di alun-alun itu digusur dan malah dijadikan lapangan berpaving. Padahal bentuknya gak kalah unik & bagus dibanding peninggalan Belanda lainnya di Kota Malang, mirip dengan perumahan Belanda depan Pabrik Gula (Suiker Fabriek) Kebonagung.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.