Benarkah asal-usul Kota Batu berasal dari Mbah Wastu?

mbah wastu
Makam Mbah Mbatu

Menguak tabir asal-usul sebuah tempat memang tidaklah mudah. Perlu kajian mendalam disertai dengan bukti-bukti, analisa, serta logika yang menjadi dasar dari sebuah cerita sampai akhirnya ditetapkan menjadi sebuah sejarah.

Sebagian masyarakat Kota Batu tentu pernah membaca atau mendengar tentang cerita sejarah Kota Batu yang sudah telanjur berkembang luas di masyarakat , bahkan situs resmi Pemerintah Kota Batu yaitu www.batukota.go.id, dan Wikipedia juga menuliskan sejarah tersebut sebagai berikut:

Batu berasal dari nama seorang ulama pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama Abu Ghonaim yang selanjutnya masyarakat setempat akrab menyebutnya dengan panggilan Mbah Wastu. Dari kebiasaan kultur Jawa yang sering memperpendek dan mempersingkat mengenai sebutan nama seseorang yang dirasa terlalu panjang, juga agar lebih singkat penyebutannya serta lebih cepat bila memanggil seseorang, akhirnya lambat laun sebutan Mbah Wastu dipanggil Mbah Tu menjadi Mbatu atau Batu. Bermula mereka hidup dalam kelompok (komunitas) di daerah Bumiaji, Sisir dan Temas akhirnya lambat laun komunitasnya semakin besar dan banyak serta menjadi suatu masyarakat yang ramai.

Buku Sejarah Daerah Batu
Buku Sejarah Daerah Batu

Itulah cerita yang selama ini diyakini sebagai sejarah Kota Batu. Namun, benarkah Kota Batu berasal dari kata Mbah Wastu? Dan benarkah Abu Ghonaim atau yang lebih akrab dipanggil dengan Mbah Wastu adalah orang yang pertama kali “babat alas” atau datang di Kota Batu? Sebuah fakta membuktikan tidak seperti itu.

Tahun 2011 telah terbit buku yang mengupas tentang sejarah Kota Batu. Buku berjudul “Sejarah Daerah Batu Rekonstruksi Sosio-Budaya Lintas Masa” ini ditulis oleh Drs. M. Dwi Cahyono, M.Hum & Tim. Buku ini dikemas dalam bentuk sejarah sosial-budaya lintas masa, yang didasarkan pada hasil Riset Arkeologi Sejarah yang telah diselenggarakan semenjak tahun 2001 (perlu penelitian selama 10 tahun sampai terbitnya buku ini). Menurut buku tersebut, awal kehidupan di Kota Batu sudah dimulai sejak zaman pra sejarah. Demikian ulasannya:

Masa Prasejarah

Zaman prasejarah mulai menampakkan jejaknya di Kota Batu dengan diketemukannya artefak batu kategori tradisi megalitik. Temuan-temuan tersebut antara lain:

  1. Lumpang Batu (bongkah batu kali, dengan sebuah atau lebih lobang dalam bentuk lingkaran di permukaan atasnya). Setidaknya ada 11 tempat di berbagai penjuru Batu ditemukan alat ini, mulai dari Dadaprejo, Pendem, Junrejo, Mojorejo, Beji, Pandanrejo, Lejar, Sisir, dan Pesanggrahan.
  2. Batu Dakon  (bongkah batu dengan beberapa lobang di bagian permukaan, fungsinya untuk menghitung tibanya masa tanam) yang ditemukan di dukuh Srebet dan Pesanggrahan.
  3. Punden Berundak  (berfungsi sebagai tempat pemujaan terhadap arwah nenek moyang) dijumpai di Punden Mbah Ganden (Dukuh Torong Tutup).
  4. Susunan Batu Temu Gelang di punden Gumukan (desa Junrejo).
  5. Menhir di Punden Oro-oro Ombo.
  6. Dolmen di Dukuh Srebet, Desa Pesanggrahan.

Masa Hindu-Budha

  1. Dalam Prasasti Kubu-kubu, disebutkan bahwa pada masa kekuasaan Kerajaan Kanyuruhan di daerah Malang pernah diadakan acara penetapan sebuah desa menjadi perdikan (sima), turut diundang pemuka masyarakat dari desa-desa tetangga, dan salah satu desa yang disebutkan sebagai tetangga desa kubu-kubu (diidentifikasi sebagai kebonagung sekarang) adalah desa “batwan”, yang boleh jadi merupakan desa kuno yang kini berlokasi di Batu. Batwan merupakan persamdhian dari batu+an.
  2. Prasasti Gulung-gulung (929M) ditulis atas perintah raja Isana (Pu Sindok) di Kerajaan Mataram. Dalam prasasti ini disebutkan desa-desa tetangga dari desa Gulung-gulung diantaranya yaitu Batwan dan Batu.
  3. Pada masa pemerintahan Mataram, Batu telah menjadi pemukiman warga yang religius. Terbukti dengan adanya Candi Pathirtan Songgoriti (abad X M) yang berasal dari masa pemerintahan Pu Sindok.
  4. Menurut Gancaran Pararaton (Katuturan Ken Angrok) menyatakan bahwa di desa Jun Watu tinggal seorang yang “sempurna,” sangat dimungkinkan orang yang dimaksud adalah Mpu Gandring.
  5. Pada masa kerajaan Majapahit ditulis kitab Kakawin Negarakretagama, dan didalamnya disebutkan bahwa Batwan dan Batu adalah dua desa berbeda yang berdekatan.
  6. Berdasarkan Prasasti Jiu II (yang ditemukan di Mojokerto), disebutkan bahwa deseng (desa) Batu sebagai desa paling selatan diantara desa-desa lain yang ditetapkan sebagai daerah untuk bangunan suci bernama Trailokyapuri. Sebagian besar desa-desa lain yang disebutkan dalam prasasti ini berada di daerah Pacet. Sehingga desa Batu merupakan batas, desa tetangga, dan desa terjauh bagi Trailokyapuri.
  7. Selain itu juga ditemukan reruntuhan candi dari bata di Pendem, Temas, Junrejo, dll, yang diperkirakan peninggalan masa Kerajaan Majapahit, peninggalan sejarah lain masa ini adalah bekas Patirthan di Jeding Kulon, reruntuhan candi di Jeding Wetan.

MASA PERKEMBANGAN ISLAM

Tidak cukup banyak sumber data sejarah yang berkenaan dengan kesejarahan daerah Batu pada masa perkembangan Islam. Selain sejumlah situs makam Islam kuno, sumber data kedapatan dalam bentuk tradisi lisan atau legenda lokal.

  1. Jejak budaya pra-Islam didapati pada areal makam Mbah Batu di Dukuh Banaran.
  2. Jika ditelusuri sejarah islamisasi di daerah Batu, tidak terlepas dari proses islamisasi di daerah Malang. Pengaruh Islam dari Giri (Gresik) dan penaklukan Kerajaan Sengguruh (kerajaan Hindu terakhir) oleh Kasultanan Demak pada 1545 diperkirakan tak berdampak bagi tersebarnya Islam di Batu karena jaraknya yang cukup jauh.
  3. Terdapat sejumlah orang yang dalam legenda lokal dinyatakan berjasa dalam siar Islam pada awal perkembangan Islam di daerah Batu, yaitu Mbah Batu dan Bambang Selo Utomo (Bumiaji, Punten), Mbah Mas (Kampung Besul), Mbah Macan Kopek (Sisir), Mbah Bener (Temas), Eyang Jugo (Junggo), dan Mbah Masayu Mataram (Ngaglik).

Itulah sebagian paparan dari isi buku “Sejarah Daerah Batu Rekonstruksi Sosio-Budaya Lintas Masa.” Perlu kiranya kita mengkritisi kembali cerita tentang sejarah Kota Batu dan asal nama Batu. Selama ini cerita yang berkembang adalah Abu Ghonaim atau Mbah Batu (yang hidup pada masa perkembangan Islam) dinyatakan sebagai “pembuka perdana (sing mbabat) Batu,” sehingga namanya Mbah Batu atau Mbah Wastu diabadikan sebagai nama daerah Batu. Karena ternyata, jauh sebelum kedatangan Abu Ghonaim/Mbah Batu/Mbah Wastu (yang diperkirakan masa hidupnya sekitar abad XVIII-XIX), daerah Batu sudah menjadi pemukiman warga pada masa pra sejarah hingga masa Hindu Budha.

Selain itu, nama Batu yang berasal dari nama Mbah Batu juga perlu dicermati karena sebelum kedatangan Mbah Batu, nama ini sudah tercantum di beberapa prasasti sebagai nama desa kuno pada masa perkembangan Hindu-Budha. Bisa jadi justru nama Mbah Batu berasal dari nama daerah, Mbah Batu yang artinya Mbah dari Batu. Mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa Abu Ghonaim/Mbah Batu/Mbah Wastu adalah orang yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Batu.

***

Diedit kembali oleh: Jatz, 15 Mei 2014

Sumber: http://ratkirani-ku.blogspot.com

3 thoughts on “Benarkah asal-usul Kota Batu berasal dari Mbah Wastu?”

    1. Tidak diperjualbelikan, tapi di Perpustakaan Kota Batu ada kalau sekedar ingin membacanya.

  1. benarkah ada prasati yg berkata bahwa Ken Arok berasal dari daerah yang dipenuhi kabut yang diduga daerah itu adalah Batu?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.