Anak Band Kota Batu tahun 1990-an, alat sederhana namun skill luar biasa…

Tahun 1990-an adalah tahun kejayaan musik rock di tanah air dan juga di Kota Batu. Semua anak band keranjingan musik rock hingga sulit ditemui grup-grup yang alirannya bukan musik rock. Nada-nada rock bergema dari studio-studio musik di Kota Batu yang pada waktu hanya berjumlah sekitar empat atau lima. Alat-alat yang disediakan oleh studio-studio tersebut juga begitu sederhana, bahkan alat band yang sebenarnya sudah tidak layak pakai pun masih disewakan juga.

Dalam musik rock, efek gitar baik untuk lead-gitar ataupun rhythm gitar sangatlah penting, karena musik rock akan terasa hampa tanpa gaung efek distorsi dari gitar. Masih segar dalam ingatan saya, bahwa pada saat itu efek gitar yang disediakan bagi seorang gitaris hanyalah “Metal Zone,” itu saja. Hampir tidak ada studio yang memberi fasilitas efek lainnya seperti “Delay” atau “Flanger,” dan semuanya masih analog, tidak ditemui efek digital. Tapi dengan berbekal efek “Metal Zone” itu saja sudah senangnya bukan main, mengingat memang pada saat itu harga efek seperti itu tidak terjangkau bagi kantong anak-anak band yang rata-rata pas-pasan. Banyak juga diantara para gitaris yang tidak memiliki gitar elektrik di rumah, jadi mereka latihan menggunakan gitar akustik, baru setelah di studio mereka menggunakan gitar elektrik. Dengan keterbatasan alat seperti itu, tentu saja para gitaris ini tidak bisa meng-“explore” seluruh kelebihan gitar elektrik beserta efeknya dengan leluasa. Mereka memainkan gitar elektrik hanya pada saat latihan yang hanya sekitar 2-3 jam saja. Namun harus diakui, dengan keterbatasan seperti itu, skill mereka dalam bermusik sangatlah luar biasa untuk ukuran saat itu. Bahkan mampu menirukan dan memainkan lagu-lagu rock dari grup-grup seperti Metallica, Guns & Roses, Edane, Power Metal atau Elpamas yang hampir semuanya mutlak harus dimainkan dengan gitar elektrik lengkap dengan efeknya. Sangat membanggakan.

Studio-studio yang menjadi langganan anak band pada waktu itu antara lain: Noff (Mas Fuad), Aster (Om Painu), Studio milik Abah Baidi, dan Tonsi (di gang perikanan – Punten). Rasanya itu saja studio yang berjaya pada masa itu. Namun meskipun begitu, antusiasme para anak band dalam berekspresi lewat musik rock sangat luar biasa, padahal seingat saya, mereka hanya memamerkan keahlian musik mereka hanya pada panggung-panggung perayaan 17 Agustus di kampung-kampung atau di panggung-panggung kampanye parpol, sangat mengenaskan… Namun berita bagusnya, panggung-panggung perayaan 17 Agustus pada waktu masih sangat diminati masyarakat, kadang penontonnya sampai berjubel, tidak seperti saat ini, sepi tanpa penonton.

Sisa-sisa dari para musisi “lawas” tersebut masih sering saya jumpai hingga tulisan ini dibuat. Mereka sekarang banyak bermain di Kafe-kafe, Hotel, dan tempat-tempat rekreasi. Musik yang mereka mainkan pun bukan lagi musik rock, namun musik standar untuk menghibur masyarakat, karena sekarang mereka tidak lagi bermain bagi kepuasan diri sendiri atau untuk ekspresi jiwa, namun bagi kepuasan orang lain yang sudah membayar untuk menikmati musik mereka. Dan perlahan-lahan namun pasti…gaung musik rock pun tidak terdengar lagi. Metallica atau Power Metal, menjadi kenangan sangat indah dalam hati para musisi “lawas” yang pernah memainkannya…

***

By: Jatz, 27 Mei 2014

One thought on “Anak Band Kota Batu tahun 1990-an, alat sederhana namun skill luar biasa…”

  1. Studio noff depan SMAN 1 BATU ,terbaik ono maneh, studio d jalan samadi. Studio channel

Leave a Reply to Joko Cancel reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.